Taktik 2-3-5 (Piramida Terbalik) di Football Manager
Penerapan
Taktik piramida suci 2-3-5 merupakan taktik ikonik
pada masa awal sepakbola. Taktik ini hadir sebagai pakem pertama di tengah
perkembangan sepakbola yang belum memiliki pola permainan secara spesifik.
Dengan memahami fungsi pemain pada masa itu,
yang tentu saja berbeda dengan pemahaman era sekarang, saya berupaya
merekonstruksi taktik klasik itu pada Football Manager.
Ø Lini belakang, 2 fullback.
Ada perbedaan pemahaman antara fullback era
awal dan fullback modern. Dalam terminologi modern, peran fullback klasik ini
paling mendekati bek tengah. Sebelum munculnya peran bek ketiga (dan bek
keempat) yang menggeser peran ini ke sisi pertahanan. Meski begitu, kedua bek
tengah ini juga dituntut mengcover wilayah sisi pertahanan karena hanya mereka
berdua di posisi paling ujung (full).
Penerapan: saya
menggunakan duet bek tengah dengan role central defender (CD-def), bek yang
bertahan secara all-round.
Ø Lini tengah, 3 pemain
Lini tengah diisi oleh 3 pemain. Satu pemain
tengah, center-half, menjalankan peran kunci sebagai pengatur ritme permainan.
Di Inggris peran ini terlibat bersama striker utama untuk mencetak gol,
sedangkan di Italia peran ini bergerak lebih leluasa dari balik layar.
Dua gelandang lainnya, winghalves akan
menopang serangan dari tengah. Ketika bertahan, mereka akan menghadang
pergerakan winger musuh.
Penerapan: Di FM, saya
memilih peran RPM (roaming playmaker) untuk pemain tengah. Peran ini bisa
terlibat di setiap fase, ikut merebut bola saat bertahan, serta ikut memberi
ancaman ketika menyerang. Saya tidak menggunakan AP karena 5 penyerang sudah
terlalu banyak. Saya menempatkan peran ini di pos gelandang bertahan untuk
menyeimbangi pertahanan dan sistem counter attack.
Selain RPM, alternatif peran lainnya adalah
DM. Sekilas keduanya serupa dalam hal menjaga pertahanan dan terlibat dalam
mengolah bola. Bedanya, DM bermain lebih seimbang karena tidak menjadi poros
utama serangan. DM lebih efektif ketika membutuhkan pertahanan yang lebih solid
seperti saat menghadapi 2 striker musuh, saat RPM dikekang oleh highpress
musuh, atau sekedar menjaga skor.
Di bagian sisi, saya memilih dua fullback
dengan role IWB (inverted wing-back). Mereka akan fokus menutup ruang sisi
pertahanan. ketika tim menguasai bola, mereka akan maju dan merapat ke tengah
membentuk formasi 3 gelandang bersama RPM tadi. Saya menempatkan dua IWB ini di
pos fullback untuk menambah kerapatan pertahanan.
IWB ini saya beri tugas defend, karena akan
beresiko jika menyuruhnya maju lebih jauh. Namun pada situasi buntu, sesekali
merubah ke tugas attack juga bisa memberi perbedaan.
Ø Lini serang, 5 pemain
Ini bagian yang cukup rumit, karena 5
penyerang bukan berarti menempatkan 5 pemain di depan. 5 penyerang ini harus
memiliki peran yang saling mendukung agar tercipta sistem 5 penyerang yang
kompak. Kemudian kontribusi mereka dalam pertahanan juga tidak bisa diabaikan.
Striker utama atau classic no 9, adalah pemain
yang bertugas sebagai pencetak gol utama. Ia akan selalu berada di depan gawang
musuh untuk menyambut umpan lalu melesakkannya menjadi gol.
Dua inside forward, adalah pendukung dari
striker utama, mereka juga siap menerima bola liar yang tidak terjangkau oleh
striker utama.
Dua outside forward atau winger, bertugas membawa
bola setinggi mungkin untuk kemudian menyuplai para penyerang dengan umpan
silang. Di sisi lapangan, mereka akan menjaga kelebaran dan menusuk kotak
penalti lawan dan menebar ancaman.
Penerapan: role
yang cocok untuk striker utama adalah poacher atau target forward. Keduanya
fokus untuk mengancam gawang lawan. Perbedaan keduanya adalah cara menghindari
musuh (bek lawan). Jika poacher suka bergerak sporadis memanfaatkan ruang
antara bek, sedangkan targetman akan bertarung mengandalkan kekuatan fisik
untuk memenangkan ruang. Saya cenderung menggunakan targetman support untuk
mengamankan ruang di depan, sehingga 4 pemain lainnya bisa masuk menambah daya
gedor.
Untuk penyerang lapis kedua, saya menggunakan
4 gelandang tengah yang sejajar. Tujuan pertamanya adalah untuk menciptakan
ruang di depan, dengan begitu transisi menyerang bisa lebih liar. Role yang
saya gunakan adalah dobel Winger dan dobel Central Midfielder, semuanya dengan
tugas attack. Dengan meletakkan 5 pemain di sisi pertahanan, 4 pemain ini akan
percaya diri untuk melancarkan blitzkrieg, serangan yang cepat dan
masif.
Dengan berada di pos gelandang tengah, mereka bisa
mundur kapan saja untuk bertahan. Dan disaat yang sama akan memancing musuh keluar
pertahanannya. Makanya 4 gelandang ini sangat mengandalkan stamina dan daya
jelajah. Mereka akan bergerak cepat secara vertikal ke depan pada transisi
positif. Dengan tambahan satu striker di depan, artinya 5 penyerang ini telah
berbagi ruang dengan sempurna (left wide, halfspace, central, halfspace, right
wide).
Di sinilah kekuatan lainnya. Sekilas mereka
bergerak secara monoton, namun prinsip “the organised disorder” bisa
dieksekusi dengan presisi dan elegan. Saya bisa mengatur salah satunya untuk
bergerak anomali sehingga menambah daya kejut. Caranya dengan menerapkan
inverted winger pada pemain outside, atau mezzala pada pemain inside. Selain
itu, mengganti tugas attack support juga bisa membuat musuh ‘keluar jalur’.
Dengan struktur ini, maka 2-3-5 bisa di
inovasi ulang sebagai sebuah sistem yang bisa diatur, disesuaikan, dan
dieksploitasi sesuai konteks pertandingan modern.
Bentuk Bertahan & Transisi
Permainan ganas 5 penyerang di depan membuat musuh ketar-ketir, namun di saat yang sama memberi harapan pada mereka, “jika di depan banyak pemain, berarti di belakangnya rapuh”. Inilah ujian sebenarnya bagi taktik jadul ini, bagaimana cara menangkal musuh ketika mereka memiliki kesempatan menyerang. Kekuatan taktik ini tidak bisa hanya mengandalkan penyerangan yang brutal. Taktik ini harus bisa bertransformasi saat bertahan dan bergerak cepat saat transisi.
Pada fase menyerang, taktik ini akan terlihat seperti 2-3-5, dengan 5 pemain depan yang tampak kentara di sekitaran kotak penalti musuh. Pada fase bertahan, bentuk ini akan berubah menjadi lebih rapat dan kompak. 4 gelandang di depan pun akan ikut berkontribusi pada pertahanan. Mereka akan bergabung dengan 3 pemain di tengah untuk membentuk pertahanan yang tebal. Sebelum bola masuk ke kotak penalti, maka formasi akan tampak seperti 2-7-1. Dan semakin musuh masuk, bek tengah makin fokus mengawal kiper, lalu IWB akan menutup ruang di samping. Formasi berubah menjadi 4-5-1. Jika musuh menggunakan 2 striker, maka pemain di pos DM bisa ikut turun menempelnya.
4 Gelandang, Kumpulan Ngengat
Seperti disinggung sebelumnya, daya juang (work rate) dan stamina 4 gelandang akan menjadi syarat utama bagi taktik ini terutama di fase transisi. Pada transisi positif, mereka akan menjadi badai di pertahanan musuh, dan pada fase bertahan mereka akan menjadi ‘ngengat’ yang mengacaukan build-up musuh.
Kehadiran para gelandang ini sangat krusial karena bek, terutama dua bek tengah, akan fokus mengawal kiper. Jika 3 gelandang bertahan (2 IWB + DM) menjadi pemecah pertama dari tsunami yang datang, maka 4 gelandang depan tadi akan memecah ombak-ombak kecil sebelum itu menjelma menjadi tsunami yang lebih besar.
Maka itu secara konsep bertahan, gerombolan 4 gelandang ini sangat diperlukan. Kontribusinya bukan hanya mengobrak-abrik pertahanan musuh, namun juga menghancurkan harapan mereka untuk menyerang balik. Inilah mengapa saya menerapkan semuanya dengan tugas attack, namun posisinya lebih dalam (sejajar CM, bukan AM).
1 Gelandang Bertahan, Sang Kusir
Peran si gelandang bertahan (baik itu DM ataupun RPM) akan menjadi sangat vital di sini, ia adalah kusir dari gerombolan ngengat itu. Saat bertahan, ia akan menjadi ‘free role’ untuk menutup celah yang tak sempat ditutup oleh bek. Dan pada fase menyerang, ia kembali menjadi ‘free role’ yang akan menjadi titik tumpuan, atau bahkan ikut aktif mengatur serangan jika diperlukan.
Dengan konsep ini, maka satu gelandang ini saya tetap taruh di pos DM, meski dengan peran RPM. RPM akan membuat pemain ini lebih aktif menjadi poros bagi serangan tanpa masuk lebih jauh ke depan. Karena masih ada ruang di belakang yang perlu ia pertahankan. Dengan begini tim bisa menjalankan pressing yang lebih tinggi. Dimana pressing akan digencarkan oleh 4 gelandang di depan, sedangkan si DM akan menjadi pemain kunci yang bersiap menyapu bola dari belakang.
Ketika musuh menyerang dari samping, maka peran menunggu bola liar ini bisa dijalankan oleh fullback yang sudah maju ke depan, inilah mengapa peran IWB lebih dipilih. IWB akan maju sejajar DM, menjaga wilayah lebar dan halfspace.
Keutamaan peran RPM, pemain ini akan lebih agresif untuk maju ke depan, dan kadang menggantikan posisi striker. Ini bisa memecah kebuntuan saat striker dan CM sudah dikunci musuh. Ketika transisi negatif, RPM secara konsep masih akan ikut turun box-to-box. Makanya pemain ini perlu work rate dan positioning yang bagus. Mengingat tugasnya untuk melakukan playmaking serta sesekali menyerang, maka RPM perlu atribut yang lebih lengkap. Sangat sulit menemukan pemain ini dan wajar saja jika peran ini identik dengan fantasista.
Peran DM juga sama solidnya dalam bertahan dan ikut mengolah bola. Tapi tentu saja DM memiliki mental bertahan yang lebih solid dibanding RPM. Pada fase menyerang, DM berfungsi mirip RPM yang menjadi titik tumpuan serangan, pemain lain bisa memanfaatkannya untuk mengubah arah serangan. Bedanya ia lebih fokus berjaga di tengah agar tidak memberikan ruang mudah bagi musuh. DM tidak tergiur untuk maju lebih jauh, sehingga pada fase bertahan ia lebih cepat mencapai posisi yang pas. DM lebih efektif menangkal umpan terobosan musuh.
Bagaimana jika menggunakan Deep Lying Playmaker? DLP sebenarnya masih masuk secara konsep. Jika dibandingkan, RPM lebih agresif maju, dan DM lebih efisien bertahan. Saya sengaja mengambil salah satu dari dua nilai ekstrem ini untuk memaksimalkan kekuatan tim terhadap musuh yang dihadapi. Jadi ini hanya tentang selera, saya sesekali menggunakan DLP jika musuh terlalu menumpuk di jalur tengah.
2 IWB, Sang Pengawal Ruang
Penggunaan 2 Inverted Wingback disini bukan sekedar hiasan. Pergerakannya yang nyeleneh memang disengaja untuk menciptakan peran yang lebih efektif. Pada fase menyerang, DM akan menjadi satu-satunya pemain di posisi ‘memecah pertama gelombang serangan’. Untuk itu perlu ada tambahan supaya peran DM tidak terlalu berat. maka saya mendorong fullback agar bisa mengisi pos sejajar DM.
Konsep inverted dipilih agar posisi mereka lebih dekat dengan pemain DM. Sehingga koneksi 3 pemain ini lebih solid. Pada saat menyerang, dua IWB bisa menjadi peredam pressing musuh dengan menjadi opsi umpan. Sehingga di lapangan tengah DM akan diapit rapat oleh 2 IWB dan 2 inside forward (CM-attack). Ini memperkuat penguasaan bola di pusat pertarungan; lapangan tengah.
Duo IWB ini diberi tugas defend sebagai acuan awal. Untuk memastikan bahwa 5 penyerang di depan bisa nyaman untuk menggempur musuh tanpa khawatir pada pertahanan. IWB akan menjadi penyambung build-up dari bawah, melanjutkan progresi bola secara vertikal ke depan. Dengan posisi yang agak masuk ke tengah (halfspace), maka IWB berada di posisi strategis untuk menjangkau winger, cm, dan striker di depan, termasuk RPM di sampingnya. Konsekuensi ini sebanding dengan pengorbanannya untuk meninggalkan area lebar.
IWB (termasuk DM di tengah) juga bisa menjadi pemecah kebuntuan saat 5 penyerang di depan mengalami deadlock. IWB bisa masuk secara underlap untuk memberikan ancaman baru. Namun ini perlu kejelian agar penetrasinya tidak menimbulkan masalah baru di lini pertahanan.
Pada fase bertahan, IWB ini akan menutup ruang di tengah, berfungsi sebagai penangkal awal serangan musuh. Dengan menggunakan dua IWB dan satu DM, maka pembagian ruang pada 3 gelandang ini cukup seimbang. Jika DM fokus mengintai ruang di depannya, maka IWB bertanggungjawab mengawal sisi lebar dan halfspace. Kiri, tengah, kanan, tiap pos sudah punya pengawal.
Ketika musuh menyerang dengan umpan panjang atau terobosan, 3 gelandang ini sudah siap di posisinya. Makanya 3 gelandang ini perlu diberi tugas defend supaya tetap fokus menutup celah di belakang, dan supaya kontribusi mereka pada fase menyerang bisa lebih berdampak.
Saat musuh menyelinap dari sisi lebar, IWB terkait akan bergerak untuk menahan musuh itu, sambil menunggu para gelandang depan turun membantu. IWB secara bertahan akan fokus menutup ruang gerak winger musuh, dan ketika wingback musuh maju maka gelandang depan juga sudah siap membantu.
Dengan permainan tim yang mengandalkan pressing relatif tinggi, maka penggunaan IWB menjadi krusial. Jika menggunakan FB (maupun IFB) maka akan ada ruang di lapangan tengah, seorang DM tidak akan sanggup meng-cover area ini sendirian. Penggunaan wingback standar sebenarnya cukup bagus, namun dengan menggeser posisinya supaya rapat dengan DM maka IWB mendapatkan posisi yang lebih strategis. IWB bisa membantu overload di tengah, sekaligus berada dekat dengan pemain depan (striker, cm ‘halfspace’, dan winger). Posisi IWB ini masih memberi kenyamanan bagi winger untuk bisa bergerak lebih leluasa di depan.
Ruang di sisi lebar pertahanan mungkin tampak rentan, makanya permainan highpress dibutuhkan untuk menutupi ini. Mencegah musuh masuk dengan mudah. Jika ada winger musuh yang cukup sepesial untuk diberi perhatian lebih, maka wingback standar bisa diterapkan. Tugas defend akan menjadi kunci supaya pemain ini disiplin menjaga sisi pertahanan. Mereka masih akan maju jika ada ruang.
Kelebihan & Kelemahan
Tidak ada taktik emas, satu taktik yang bisa mengalahkan semua taktik. Sama seperti piramida suci ini. Taktik ini bisa berjaya selama bebeberapa dekade merupakan bukti ketangguhan taktik ini, namun mengapa taktik ini ditinggalkan juga menjadi alasan bahwa taktik ini memiliki kekurangaan. Setelah memahami penyerangan, pertahanan, dan transisi dari taktik ini, kita bisa menilai apa yang bisa diharapkan dari taktik ini serta pengorbanan apa yang diperlukan untuk mencapai kesuksesannya.
Di Football Manager, memahami kekuatan dan kelemahan sebuah sistem adalah sebuah keharusan. Meskipun taktik 2-3-5 ini pernah berjaya, bukan berarti ini adalah taktik terbaik. Yang harus dipahami adalah kapan taktik ini bisa dimaksimalkan, dan kapan taktik ini perlu penyesuaian. Dengan kesadaran ini, kita bisa menggunakan 2-3-5 sebagai sebuah alat taktis yang efektif dan elegan, bukan sekedar taktik plug-n-play yang dicoba-coba secara brutal.
Kekuatan 2-3-5
- Superior Secara Jumlah di Zona Serang
Kekuatan utama dari taktik 2-3-5 terletak pada keberadaan lima pemain di area pertahanan musuh. Superioritas jumlah ini menciptakan tekanan konstan dari berbagai jalur—tengah, sisi lebar, hingga halfspace—yang memaksa lawan berada dalam kondisi siaga terus-menerus. Serangan tidak datang dari satu arah, melainkan bergelombang dan serempak, sehingga peluang terciptanya gol semakin besar seiring meningkatnya intensitas tekanan.
Keunggulan jumlah penyerang ini membuat lini belakang lawan sibuk menentukan prioritas marking dan cenderung bermain reaktif terhadap setiap pergerakan. Fokus mereka tersedot sepenuhnya untuk bertahan, hingga sering kehilangan kesempatan dan kesiapan untuk menyerang balik. Di belakang lima penyerang tersebut, tiga gelandang tengah membentuk ilusi tembok kokoh yang tidak hanya menopang suplai serangan dan pergantian arah, tetapi juga menutup ruang gerak lawan. Tanpa koordinasi pertahanan yang solid, tim musuh pada akhirnya hanya bisa bertahan dan menunggu hingga badai tekanan tersebut mereda.
- Fleksibilitas Serangan
Lima pemain di depan juga memungkinkan kombinasi serangan yang sangat bervariasi. Perubahan satu peran atau tugas saja sudah bisa menciptakan pola baru yang sulit dianalisis. Taktik ini bisa menghadirkan ‘the organized disorder’ atau kekacauan terencana yang mampu mengubah arah dan ritme permainan, mendulang peluang sebelum musuh sempat menyadarinya.
Salah satu caranya dengan mengubah instruksi pemain. Jika kombinasi winger dan CM menciptakan gerak lurus secara vertikal, maka pemain bisa menjalankan peran inverted winger dan mezzala supaya berubah menjadi diagonal. Tugas support juga bisa diterapkan untuk menahan laju gerakan pemain, sehingga musuh akan tertarik untuk mengejar daripada menunggu di posisinya.
Selain 5 pemain di depan, 3 pemain tengah juga bisa memberi bantuan untuk memecah kebuntuan. Mereka bisa memberikan penetrasi tak terduga, tembakan jarak jauh, atau sekedar merusak konsentrasi musuh.
Targetman di depan yang biasanya menjadi tiang pancang serangan pun bisa sesekali bergerak turun (F9 atau DLF) supaya bek musuh membuka celah.
- Kontrol di Tengah
Taktik ini menitikberatkan kendali mutlak di lapangan tengah. Ini akan menghancurkan build-up musuh sebelum mampu menembus ke depan. Secara bertahan, peran 3 gelandang bertahan (DM + 2 IWB) akan menyapu umpan-umpan panjang musuh sebelum 4 gelandang depan turun menutup ruang lainnya.
Pada fase menyerang, RPM sebagai pemain kunci akan dikelilingi oleh 4 pemain; 2 CM dan 2 IWB. Ini dapat memudahkan build-up saat bola kembali direbut, serta menjaga aliran bola tetap aman selama tim mencari-cari celah serangan. Posisi rapat 5 pemain ini akan menciptakan dominasi di tengah lapangan baik fase bertahan ataupun menyerang, memaksa musuh untuk mencari cara lain yang lebih rumit.
- Transisi Vertikal Cepat
Dengan menguasai lapangan tengah, maka perpindahan bola menjadi lancar. 3 gelandang bertahan (kiri, tangah, kanan) terkoneksi secara strategis terhadap 5 pemain di depannya (kiri, halfspace, tengah, halfspace, kanan). Tiap pemain sudah mengisi ruangnya masing-masing jadi tidak perlu banyak gerakan untuk membangun ulang struktur.
Kondisi ini sangat cocok untuk menjaga momentum permainan apalagi dengan tempo tinggi, karena pemain sudah siap di posisinya untuk mengalirkan bola. Membuat serangan blitzkrieg kian mematikan.
- Pressing Berlapis
Ketika serangan gagal, 5 pemain depan akan langsung melakukan pressing. Mengingat posisi awal mereka di CM (kecuali striker), mereka komitmen untuk mengejar musuh sampai bawah. Di belakang, 3 gelandang sudah berjaga-jaga sejak awal untuk menutup bola liar yang datang. Semakin lama musuh memegang bola, maka pemain kita akan semakin rapat membangun struktur pertahanan. Satu target man di depan selalu siap untuk memulai serangan.
Kelemahan 2-3-5
- Celah di Sisi Lebar
Celah di sisi lebar sangat mudah untuk ditemukan. Ini wajar saja karena taktik 2-3-5 memang fokus di lapangan tengah serta cenderung highpress. Konsekuensi yang logis namun bukan berarti harus diabaikan begitu saja.
Kelemahan ini akan mudah diekploitasi oleh musuh yang memiliki winger cepat dan jago dribbling melewati pressing. Tanpa perlawanan berarti, winger ini akan masuk ke area rawan; kotak penati. Antisipasinya adalah meningkatkan kesadaran bertahan bagi pemain di sisi itu. Memberi marking khusus pada winger musuh itu bisa meredam kreatifitasnya. Jika perlu, IWB dirubah ke WB atau FB supaya fokus zonal marking disitu.
Jika area samping ini dibiarkan kosong terlalu lama, kemungkinan mereka akan merasa aman untuk membangun pivot serangan di sini, kemudian meluncurkan crossing ke tengah. Untuk hal ini, pemain DM mau tidak mau harus turun ke bawah untuk menghalau umpan silang dan menutup penetrasi musuh di tengah. Dan IWB bisa disesuaikan untuk menetralisir si pengirim crossing.
- Pemain yang Sulit Dicari.
Taktik 2-3-5 mengandalkan transisi yang cepat dan kompak. Tentu saja ini membutuhkan stamina dan work rate tinggi untuk menunjang pergerakan konstan sepanjang pertandingan. Termasuk kebutuhan positioning untuk mendukung sistem pertahanan. Skill positioning pemain depan mungkin tidak perlu tinggi, tapi tidak boleh jeblok karena mereka ikut terlibat dalam sistem pressing. Tiga skill tadi menjadi syarat utama yang harus dimiliki oleh semua skuad.
Taktik ini tidak menuntut pemain dengan skill spesifik yang tinggi. Tapi memerlukan pemain yang cukup all-round. Tidak perlu terlalu bagus di satu aspek, yang penting bisa melakukan banyak hal dengan cakap. Karena kekuatan taktik ini ada pada jumlah pemain dan momentum. Para pemain, khususnya di lini tengah, bisa saling mengisi di setiap fase permainan. Satu skill jeblok akan berdampak pada kesalahan yang akan diekploitasi oleh musuh.
Sekilas hampir semua pemain bisa direkrut untuk taktik ini. Pelatih hanya fokus pada tiga skill utama tadi, kemudian memanfaatkan kelebihan pemain sebagai variasi warna dalam sistem. Namun perlu satu pemain yang harus benar-benar diperhatikan, yakni pemain kunci; RPM.
Khusus untuk pemain RPM, kunci dari permainan tim, harus memiliki skill yang komplit. Ia akan ikut terlibat dalam penyerangan, aktif membangun build-up, serta berkontribusi pada pertahanan. Ini adalah pemain yang harus ‘dibayar berapapun harganya’.
- Resiko Saat Pressing Gagal
Seperti disebut tadi, positioning merupakan salah satu syarat utama skuad. Dengan memahami posisi masing-masing saat tim kehilangan bola, maka sistem pertahanan akan berjalan efektif. Satu kesalahan akan membuka ruang lebar di belakang, mengingat tim ini bermain dengan high press. Saat satu lapisan pressing terlewat, maka usaha untuk memperbaikinya akan lebih besar.
Saat melawan tim yang hebat mereka mampu melakukan strategi invite pressing. Mereka mampu mendikte pressing kita dan mengekspos celah di sisi lain. Ini yang harus diperhatikan jeli oleh pelatih agar pressing tidak terlalu ugal-ugalan saat melawan tim yang lebih cerdas. Pelatih harus paham di sisi mana pressing perlu ditekankan, dan kapan harus diregangkan.
Selain itu, kolektifitas tim menjadi pembeda dari kualitas taktik ini. Dengan skuad yang sudah saling mengerti satu sama lain, maka sistem apapun mampu dijalankan dengan baik. Termasuk sistem pressing tadi.
- Konteks Pertandingan
Taktik ini bagus untuk menekan musuh dan mengejar gol secepatnya. Cocok digunakan sebagai taktik pembuka untuk melemahkan mental musuh sejak awal. Namun menggunakan taktik ini selama 90 menit penuh bukan pilihan bijak. Perlu pemahaman mendalam agar taktik ini bisa menghadirkan potensi maksimalnya.
Dengan intensitas yang tinggi, taktik ini bersifat high risk high return, tidak cocok untuk pertandingan yang menginginkan hasil aman. Dengan terus menekan, selalu ada ruang tercipta di belakang. Jika dipaksa menjadi low block, malah akan menghilangkan esensinya. Perlu ada penyesuaian besar-besaran untuk pertandingan seperti itu.
- Pemahaman Mendalam
2-3-5 memang menghadirkan kengerian di lini serang. Pundi-pundi gol akan terasa mudah diraih. Namun untuk membuat taktik ini membrikan hasil yang konsisten, perlu pemahaman yang mendalam. Jika taktik ini digunakan sebagai plug-n-play, maka musuh akan mudah menemukan sisi lemah di samping dan menghukum dengan kejam.
Taktik ini cocok untuk pelatih yang setia membaca tiap perubahan kecil dalam pertandingan. Biasanya pelatih akan menemukan kapan stamina dan konsentrasi tim menurun, dan merasa perlu memberikan napas bagi tim sebelum comeback dengan serangan blitzkrieg-nya.
Penutup
Piramida suci 2-3-5 bukan mitos, itu pernah menjadi pakem taktik bagi seluruh dunia. Munculnya banyak taktik lain tidak menggerus nilai emasnya, mereka hanya mengakomodir ide lain yang tidak mampu ditampung oleh 2-3-5. Kejayaan 2-3-5 memudar ketika orang-orang hanya sekadar membaca angka; 2 di belakang, 3 di tengah, dan 5 di depan. Taktik ini tidak pernah mati sepenuhnya, dunia hanya mengubah arena pertandingannya, bukan konsepnya.
2-3-5 memang bukan taktik paling sempurna, dan memang tidak pernah ada taktik sempurna. Semua akan diuji oleh waktu, oleh ketersediaan skuad, dan oleh pemahaman pelatihnya. Pada masa jayanya, taktik ini menawarkan suatu nilai yang paling jujur, all-out attack. Dimana sebuah kemenangan ditentukan oleh skor paling banyak, maka menyerang adalah sebuah keharusan. 2-3-5 bukan lagi berada di atas kertas, ia berada di benak pelatih-pelatih hebat yang berani mengakui bahwa kemenangan harus direbut, bukan ditunggu.
Posting Komentar
Posting Komentar