Pernah dengar istilah “pemain nomor 10” ? itu bukan semata-mata pemain yang memakai baju dengan nomor punggung 10. Nomor 10 yang dimaksud mengacu pada posisi bermainnya.
Sistem penomoran telah dilakukan sejak awal-awal sepakbola profesional, tujuannya untuk memudahkan mengingat urutan dan posisi pemain. Namun hal ini tidak berlaku secara umum, hanya beberapa tim saja menerapkannya dan itu pun masih tidak konsisten.
Sejarah Awal Sistem Penomoran
Beberapa pertandingan yang tercatat diantarnya pertandingan Sidney Leinchart melawan HMS Powerful pada 1911 di Australia, Klub Lanark asal Skotlandia saat tur ke Argentina pada 1923, Arsenal melawan Sheffield Wednesday dan Chelsea melawan Swansea pada 1928, dan Final piala FA 1933 antara Everton dan Manchester City.
Herbert Chapman, pelatih Arsenal di akhir dekade 1920an, dipercaya merupakan salahsatu perintis sistem penomoran baju pemain. Sistem penomoran diterapkan untuk menunjang strategi man-marking pada taktik WM yang diciptakannya.
Federasi sepakbola Inggris membakukan sistem penomoran ini pada tahun 1939. Ini menjadi titik sejarah tentang sistem penomoran, mengingat posisi Inggris yang dikenal sebagai penemu dan kiblat sepakbola. Ide ini kemudian menyebar dan diterapkan di kompetisi domestik masing-masing negara. Piala dunia 1958 adalah pertama kali peraturan ini diterapkan.
Dekade 1930an, banyak tim masih menggunakan formasi 2-3-5 sebagai pakem utama. Taktik WM masih dianggap radikal pada masa itu. Sehingga sistem penomoran yang digunakan oleh FA mengacu pada formasi 2-3-5.
Cara Pemberian Nomor
Gambar di atas adalah cara pemberian nomor yang ditentukan oleh FA. Nomor diberikan kepada tiap pemain berdasarkan posisinya. Cara ini dilakukan secara luas di banyak klub kala itu.
Namun ada juga beberapa klub yang melakukan pemberian nomor berdasarkan urutan nama pemain. Misalnya Argentina pada piala dunia 1974 dan 1978, mereka memberikan nomor pemain berdasarkan urutan abjad pada namanya.
Pada liga Inggris, penomoran ini diberlakukan untuk 11 starter di lapangan. Tiap pemain yang turun akan mengenakan baju dengan nomor 1 hingga 11. Dengan begini, hampir tidak ada pemain yang terikat secara khusus dengan satu nomor. Karena selalu ada perubahan komposisi pemain di tiap pertandingan.
Ketika pemain pengganti (subtitutes player) mulai dipergunakan, mereka akan menggunakan nomor 12 dan seterusnya.
1993, Peraturan Baru
Tahun 1993 federasi sepakbola Inggris menerapkan perubahan pada sistem penomoran ini. Tiap pemain kini bebas memilih nomor, namun akan terikat pada satu nomor itu hingga akhir musim.
Selain itu, diberlakukan juga penambahan nama pemain di atas nomor punggung. Ini terjadi di Inggris, negara lain mulai mengikuti dengan beberapa variasinya masing-masing.
Beberapa kompetisi menerapkan batasan penomoran. Misalnya Piala Dunia, nomor 1 hingga 23 harus diberikan kepada keseluruhan 23 pemain yang terdaftar. Jadi tidak ada nomor yang kosong dan tidak ada pemain yang mengenakan nomor selain itu.
Di level klub, contohnya di spanyol, 25 pemain inti harus menggunakan nomor 1-25, dengan nomor 1, 13, dan 25 khusus untuk kiper. Pemain muda yang bermain untuk tim utama menggunakan nomor 26 hingga 99. Peraturan ini bermacam-macam di tiap kompetisi.
Beberapa kompetisi menggunakan sistem penomoran yang lebih fleksibel. Beberapa kompetisi membolehkan pemain menggunakan nomor antara 1 hingga 99. Tentunya jumlah pemain yang terdafar tergantung pada peraturan terkait.
Sistem Penomoran dan Evolusi taktik
Kembali kepada penerapan nomor menggunakan format 2-3-5. Ide ide sempat dikritik karena dianggap tidak merespon perubahan taktik. Apalagi pada dekade 1930an, ide taktik WM yang dipopulerkan Chapman mulai menyebar menggantikan popularitas taktik 2-3-5. Revolusi taktik lain terus terjadi di berbagai belahan dunia. Dan perubahan posisi pemain pada taktik menyebabkan penomoran pemain juga ikut bergeser.
Misalnya di Inggris yang dimulai dengan maraknya formasi WM (3-2-2-3) dengan bek ketiga sebagai inovasi utamanya. Karena full back diisi oleh nomor 2 dan 3, maka akan ada satu nomor yang menjadi bek ketiga. Dan biasanya nomor 5 yang akan turun ke posisi itu.
Konsep “yang satu lebih menyerang dan satunya lagi lebih bertahan” diterapkan pada dua half back (4 dan 6) dan dua inside forward (8 dan 10). Pada kasus inggirs, biasanya nomor 6 yang dibermain lebih bertahan. Dengan munculnya konsep empat bek, maka nomor 6 yang di dorong menjadi bek keempat. Begitu juga pada duet di depan, nomor 10 diplot lebih menyerang daripada nomor 8, sehingga ketika striker butuh partner maka nomor 10 lah yang akan maju.
Timnas Hungaria legendaris, The Mighty Magyar, menerapkan bek keempat setelah kekalahannya dari Jerman di piala dunia 1954. Zakarias (pemain nomor 6) didorong untuk menemani Lorant (pemain nomor 4) di posisi bek tengah. Di lini depan, Puskas (nomor 10) yang bermain eksploratif di dorong maju bersama Kocsis (nomor 8), menciptakan duet 8-10 di depan. Dengan Hidegkuti (nomor 9) yang bermain lebih efektif sebagai gelandang. Sedikit berbeda dengan yang terjadi di Brazil, duet penyerang diisi oleh nomor 9 dan 10 serta nomor 8 sebagai gelandang serang.
Nomor sebagai posisi
Pada peraturan lama, pemain starter menggunakan nomor 1 hingga 11. Sehingga akan selalu ada 11 nomor itu di lapangan. Ini kemudian memperkuat persepsi mengenai hubungan antara nomor pemain dan posisinya di lapangan. Dan pada perkembangan selanjutnya, nomor-nomor itu dianggap menggambarkan peran pemain secara spesifik.
Misalnya “pemain nomor 9”. Istilah ini selalu mengacu kepada pemain yang bertugas di depan sebagai ujung tombak tim mencetak gol. Kemampuan dan tugas spesifik telah melekat pada pemain tersebut, sehingga menjadi standar bagi pemain yang bermain di posisi itu. Persepsi ini juga ikut melekat pada pemain lawan yang menghadapinya, mengembangkan bagaimana cara menangkal pemain dengan tugas nomor 9 itu. Lalu muncul istilah “false 9” atau nomor 9 palsu, sebutan untuk striker yang menjalankan tugas menyerang secara anomali, membuat musuh yang melawannya merasa tertipu.
Posisi lainnya adalah nomor 6, pemain di posisi geladang bertahan. Meski banyak versi taktik yang menggunakan nomor punggung 4 atau 5 untuk posisi gelandang bertahan, nomor 6 memiliki citra lebih kuat karena berada di urutan ke-6 pertahanan (setelah 1 kiper dan 4 bek). Mungkin saja karena banyaknya versi penomoran pada bek, menyebabkan tidak ada satu versi yang benar-benar dipakai secara luas. “Nomor 6” menggambarkan pemain yang bermain sebagai gelandang bertahan dengan tugas melindungi para bek, menjadi garda terdepan dalam merebut bola, serta menjadi penghubung utama dalam menyambungkan build-up dengan pemain depan lainnya.
Kemudian ada nomor 7 dan 11, keduanya adalah pemain sayap. Nomor 7 di kanan, dan nomor 11 di kiri. Dua pemian ini digambarkan sebagai pemain lebar yang menusuk musuh dari sisi lapangan. Menebarkan kengerian melalui kemampuan penetrasi kilat, dribbling lincah, dan crossing yang akurat.
Pemain nomor 10, pemain yang sangat penting bagi tim karena ia adalah pendukung utama bagi pemain nomor 9. Nomor 10 akan menyuplai bola kepada striker untuk dieksekusi. Untuk mengirim bola mematikan ke depan, ia akan memperhatikan kondisi pertahanan musuh untuk mencari celah. Sambil menunggu celah itu terbuka, ia akan mengatur ritme permainan, menentukan kapan dan kemana bola diarahkan. Makanya ia disebut playmaker. Posisi krusial di area pertahanan lawan, tekanan dari pemain musuh, serta tingkat resiko yang tinggi memberikan panggung megah bagi pemain ini. Karena jika ia berhasil menjalankan tugasnya, maka peluang mencetak gol akan semakin lebar. Kemampuannya untuk menciptakan keajaiban dan menghidupkan harapan akan membuat penonton terbuai dalam fantasi, inilah mengapa pemain ini juga dijuluki fantasista.
Kemudian ada pemain nomor 8 yang lebih dikenal dengan box to box midfielder, karena ia beroperasi luas dari kotak penalti lawan ke kotak penalti sendiri. Nomor 8 dan 10 sama-sama bertugas menyerang, namun nomor 8 lebih sebagai pendukung dari nomor 10. Ia akan bulak-balik memungut bola dan mengirimnya kepada sang playmaker. Pemain nomor 8 memadukan stamina serta kecerdasan dalam membaca situasi pertandingan untuk mengisi tiap ruang yang kosong. Ia menghubungkan lini serang dan lini bertahan dalam kesatuan taktik yang komprehensif.
Nomor dan pemain spesial
Setelah peraturan baru, pemilihan nomor pemain semakin fleksibel. Beberapa pemain bisa menentukan nomornya sendiri, berdasarkan tanggal kelahiran, nomor keberuntungan, atau identitas khusus. Ini berdampak pada aspek kenangan, seperti Maradona dengan nomor 10 nya. Pada dunia yang lebih modern, ini juga menular pada aspek komersil atau branding.
Di AC Milan, nomor 3 dan 6 disematkan pada dinasti Maldini. Di Manchester United, nomor 7 selalu dibicarakan karena hanya diberikan kepada pemain berlabel bintang, sehingga itu akan menambah reputasi si pemain (dan beban nya).
Kita juga melihat Cristiano Ronaldo dengan nomor 7 nya. Dimanapun bermain, ia menggunakan nomor 7 sehingga melekat branding CR7. Sebagaimana nomor 10 sering dikaitkan dengan Pele, Messi, dan Maradona. Dan nomor 9 untuk Ronaldo il phenomenon.
Beberapa tim menggunakan nomor 12 sebagai penghormatan khusus kepada pendukung atau pemain ke-12. Sehingga tidak digunakan pada pemain. Beberapa tim bahkan membuat nomor itu ‘pensiun’ seperti nomor 10 di Napoli (milik Maradona). Timnas Argentina berupaya melakukannya, hanya saja FIFA mensyaratkan penomoran 1 hingga 23 untuk 23 pemain yang terdaftar, tidak boleh ada yang terlewati, sehingga nomor 10 di timnas Argentina akan dipakai oleh pemain lain.
Kesimpulan
Nomor punggung mungkin tidak terlalu berpengaruh pada performa pemain. Namun itu memiliki kekuatan sebagai topik pembicaraan yang akan dibahas oleh publik, dan bisa saja menjadi persepsi secara luas. Contohnya peran false 9 yang muncul untuk mengakali persepsi umum mengenai pemain nomor 9. Yang terpenting, sepakbola harus selalu dinikmati sebagai olahraga yang menghibur. Nomor-nomor pada punggung pemain memiliki daya tarik tersendiri dalam meningkatkan reputasi sepakbola.





Posting Komentar
Posting Komentar